FENOMENA REMAJA DAHULU DAN SEKARANG
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,
“ Tidak beranjak kaki anak Adam dari hadapan Allah hingga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya, dihabiskan untuk apa? tentang usia mudanya , diisi dengan apa? tentang hartanya, dari mana dia dapatkan dan digunakan untuk apa? Dan amalannya dari ilmu yang dia miliki?”
(HR. At-Tirmidzi)
Masa remaja adalah masa mengukir prestasi . Karena fase inilah fase untuk membuktikan bahwa kita memiliki potensi untuk memberikan karya terbaik bagi umat ini. Maka bila masa ini terbuang tercuma akan menyebabkan sebuah penyesalan yang besar di akhir nanti.
Untuk itu dibutuhkan semangat dan ilmu yang kuat agar kita mampu menggunakan masa ini dengan baik. Agar terukir indah dan member kontribusi terbaik bagi diri dan agama kita.
MASA REMAJA NABI
Sebelumnya, marilah kita melihat kepada pribadi teladan kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada awal-awal masa remaja, Rasulullah belum memiliki pekerjaan tetap untuk mencukupi kebutuhan hidup. Namun begitu, beliau tidak putus harapan. Beliau menggembala kambing di kalangan Bani Sa’ad dan juga di Makkah dengan imbalan beberapa dinar. Beliau menjalani semua itu selama beberapa tahun.
Pada usia dua puluh lima tahun, beliau pergi berdagang ke Syam menjualkan barang dagangan milik Khodijah binti Khuwailid. Khodijah ialah seorang wanita pedagang, terpandang dan kaya raya. Dia biasa menyuruh orang-orang untuk menjalankan barang dagangannya dengan membagi sebagian hasilnya kepada mereka. Sementara kebanyakan orang Quroisy memiliki kegemaran berdagang. Karena itulah kerjasama dagang di antara mereka bisa berjalan dengan baik.
Di kalangan kaum Quraisy, Nabi Muhammad memang dikenal sebagai orang yang berbudi luhur .
Tatkala Khodijah mendengar kabar tentang kejujuran perkataan beliau , nama baik dan kemuliaan akhlak beliau, maka dia pun mengirimkan utusan dan menawarkan kepada beliau agar berangkat ke Syam untuk menjualkan barang dagangannya. Dia siap memberikan imbalan yang jauh lebih banyak dari imbalan yang pernah dia berikan kepada pedagang-pedagang yang lain. Tapi dengan syarat, beliau harus pergi bersama seorang pembantunya yang bernama Maisaroh. Beliau menerima tawaran ini. Maka, berangkatlah beliau ke Syam untuk berdagang disertai Maisaroh.
Setelah selesai berdagang di Syam, beliau bersama Maisaroh kembali ke Makkah. Setibanya di Makkah, Khodijah terheran-heran dan takjub. Keuntungan yang ia peroleh dari perdagangan Nabi Muhammad sangatlah banyak. Tidak pernah sebelumnya ia mendapat laba sebesar itu. Maisaroh menceritakan kepada Khodijah bahwa Nabi Muhammad bisa mendapatkan itu semua karena modal dagang utama beliau adalah akhlak yang mulia, juga kecerdikan dan kejujuran. Sehingga wajar bila orang-orang yang menjalin hubungan dagang dengan beliau merasa senang.
Itulah potret remaja seorang Rasul yang kita cintai. Beliau tidak MALAS, tidak juga menghabiskan waktunya dengan sia-sia. Tetapi beliau mengambil posisi penting untuk mengekspresikan potensi dan bakatnya dengan berdagang. Beliau tidak menyia nyiakan kesempatan sedikitpun.
REMAJA-REMAJA HEBAT DI ZAMAN NABI
1. Zubeir bin Al-Awwam Radiyallahu 'anhu
Dialah teman diskusi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, anggota pasukan berkuda Islam, tentara yang pemberani, juga pemimpin dakwah Islam di zamannya. Berapa umurnya saat itu? 15 tahun!! Sangat mencengangkan.
2. Thalhah bin Ubaidillah Radiyallahu 'anhu
Dia adalah salah seorang pembesar utama barisan Islam di Mekah, singa podium yang handal, tentara berkuda yang masyhur dengan kepiawaian dan keberaniannya, donatur infaq fisabilillah, juga seseorang yang dijuluki Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Thalhatul khair (pohon kebaikan). Usia beliau saat itu, adalah 16 tahun!
3. Sa’ad bin Abi Waqqash Radiyallahu 'anhu
Seorang sahabat besar, beliaulah yang pertama kali mengalirkan darahnya untuk Islam. Juga, satu-satu sahabat yang pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jamin dengan kedua orang tuanya di saat perang Uhud , dengan berkata, “Lepaskan Sa’d, demi ayah dan ibuku!” sebagaimana diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu . Dan Beliau baru berumur 16 tahun, ketika itu.
4. Al-Arqam bin Abil Arqam Al-Makhzumi Radiyallahu 'anhu
Pemuda yang meninggalkan banyak kenangan indah bagi tiap muslim. Selama 13 tahun penuh, beliaulah yang berani membuka pintu rumahnya untuk dijadikan markas dakwah di kota Mekah, meski bahaya terus membayangi. Beliau masih berusia 16 tahun saat itu.
5
. Ali bin Abi Thalib Radiyallahu 'anhu
Beliau adalah seorang anak yang masih berumur 10 tahun, hanya 10 tahun! Namun ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapat wahyu yang pertama kali, Rasulullah Salallahu 'alaihi wa salam langsung pergi menemui Ali dan memberitahukan kabar gembira itu padanya. Masya Allah! Tahukah Anda impian sahabat kecil yang umurnya baru 13 tahun dan belum baligh ini? Beliau adalah sahabat yang masyhur dengan postur tubuh yang kecil. Namun, subhanallah! dengan postur dan usianya yang relatif kecil itu, beliau selalu menyibukkan hidupnya dengan urusan umat. Saat itu, ketika Zaid kecil mendengar berita bahwa pasukan Islam bersiap-siap hendak menghadapi tentara musyrikin di medan badar, semangat bela agama di hatinya seketika tergerak. Ya, sahabat kecil ini kemudian mengusung pedangnya, sebuah pedang yang lebih panjang dari tinggi badannya! Berangkat dan bergabung dengan tentara muslim yang lain.
PEMUDA KINI
Problematika remaja saat ini semakin kompleks. Saat ini remeja cenderung semakin susah untuk dikendalikan. Kecenderungan remaja untuk melanggar norma dan nilai adab pergaulan terlihat jelas di masyarakat kita.
Mereka terjebak pada dua fitnah besar:
1.Fitnah Syahwat
Fitnah syahwat bisa dilihat pada kegandrungan mereka pada budaya barat yang mengarah pada, seks and drugs. Opini gaul bebas di kalangan remaja kian gencar dan tanpa hambatan menyapa kita. Tayangan pornografi dan pornoaksi tak ada matinya di layar kaca atau layar lebar. Akibatnya, gaul bebas yang mengarah pada seks bebas kian populer di lingkungan generasi muda.
2. Fitnah Syubuhat
Fitnah Syubuhat terlihat pada kebingungan mereka memilih jalan yang benar. Bingung mengisi waktu dan selalu merasa tidak pede dengan keislaman mereka.
Munculnya gaya hidup punk, mengikuti hal-hal yang tidak ketahuan rimbanya. Mengikuti kebiasaan membuat geng-geng, dan bahkan terjerumus pada pemahaman-pemahaman sekuler, kapitalis dan hedonis. Belum lagi penggerogotan firqoh (Kelompok) menyimpang yang terus memilih sasaran Remaja muslim sebagai sasaran target utama mereka dari kalangan Khawarij, Syiah, Mu'tazillah, Tasawuf dan firqoh-firqoh sesat Islam yang lainnya, sehingga semakin samarlah Agama Islam yang sesungguhnya dimata mereka. Mereka tidak lagi menempatkan islam sebagai way of life.
Sebaliknya mereka mengganti gaya hidup mereka dengan gaya hidup ala barat yang menyesatkan. Mereka meninggalkan pakaian rapi mereka dan mereka ganti dengan pakaian super mini dan acak-acakan. Mereka tidak paham mana yang benar dan mana yang salah. Hidup mereka terombang ambing, bingung mau kemana. Bila terdapat masalah sedikit saja mereka langsung lari ke narkoba atau malah memilih bunuh diri sebagai pilihan terakhir.
SOLUSINYA?
Pilih sahabatmu!
Betapa jauh perjalanan iman yang telah engkau tempuh, namun sahabatmu dapat dengan mudah mengembalikanmu pada titik pertama kamu melangkah, bahkan kembali lagi ke jalan hitammu.
Jangan katakan, “Aku mampu menjaga diri, dan takkan terpengaruh oleh luar”. Karena akhlaq, agama dan kepribadian seseorang akan menyesuaikan lingkungan dimana ia berada.
Rumus ini juga tersirat dalam sebuah hadits, diriwayatkan oleh At tirmidzy, Abu daud, dan Ahmad dari Abi hurairah Radiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah Salallahu 'alaihi wa salam bersabda:
“Seorang manusia diatas agama temannya, maka lihatlah siapa yang berteman dengannya ”.
Jika engkau menghendaki jalan yang lebih terang menuju surga, harus anda cari teman bergaul yang sholih. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dai Ibnu umar Radiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barang siapa yang ingin biji surga, hendaklah hidup berjamaah ”.
Melawan hasutan setan, tak bisa kita lakukan sendiri, sebuah hadits riwayat Ahmad dari Ibnu umar Radiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Waspadalah dengan perpecahan, karena sesungguhnya setan bersama orang-orang yang sendiri, dan dia lebih jauh dari orang yang berdua”.
Wallahua'lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar