Sabtu, 18 Mei 2013

MENJADI HAMBA ALLAH 24 JAM

MENJADI HAMBA ALLAH 24 JAM

Sungguh Allah Ta’ala menciptakan manusia untuk suatu tujuan yang mulia, yaitu untuk beribadah kepada Allah semata tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu yang lain.

Allah Ta’ala berfirman:

"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. (QS.Adz-Dzariyat / 51:56).

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menuntut dua perkara dari kita. Pertama, beribadah kepada Allah Ta’ala dengan cara yang sesuai syariat-Nya. Kedua, tidak menyerahkan ibadah itu kepada selain-Nya.
Artinya, seorang Mukmin harus menjadi hamba Allah Ta’ala selama hayatnya. Statusnya sebagai hamba Allah Ta’ala ini tidak boleh lepas darinya walaupun sesaat. Itulah tujuan kita diciptakan. Itulah status dan gelar tertinggi yang diraih seorang insan, yaitu menjadi hamba Allah Ta’ala yang sejati.

Allah Ta’ala telah menyematkan gelar ini kepada hamba-Nya yang paling mulia, yaitu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah Ta’ala berfirman :

"Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba -Nya pada suatu malam dari al-Masjidil Haram ke al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-­tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui."
(QS al-Isra/17: 1).

Umur yang Allah Ta’ala berikan kepada kita ini adalah sebuah karunia dan anugerah yang tiada ternilai. Satu hari Allah Ta’ala memberi kita 24 jam. Itulah waktu yang harus kita pergunakan sebaik -baiknya agar menjadi hamba Allah Ta’ala yang sejati.
Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan sebuah wasiat yang sangat agung bagi kita, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

"Pergunakanlah yang lima sebelum datang yang lima (yaitu) masa mudamu sebelum datang masa tua; masa sehatmu sebelum datang masa sakit; masa kayamu sebelum datang masa miskin; masa luangmu sebelum datang masa sibuk; masa hidupmu sebelum datang kematian.
[HR. Al-Hakim]

Sesungguhnya hidup adalah kumpulan hari-hari. Alangkah ruginya kita, bila terus dibuai angan-angan sehingga lupa memperbaiki diri. Mestinya, kita berpindah dari satu bentuk ibadah kepada bentuk ibadah lainnya.

Allah Ta’ala berfirman:
"Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap."
(QS. al-Insyirah/94:7-8).

Ketika menjelaskan ayat ini, Syaik Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Apabila engkau telah selesai mengerjakan suatu tugas maka bersiap-siaplah mengerjakan tugas yang lainnya, janganlah menyia-nyiakan kesempatan.

Oleh karena itu, kehidupan orang yang berakal adalah kehidupan yang penuh semangat. Setiap kali selesai mengerjakan satu tugas, ia bersiap mengerjakan tugas yang lain. Karena waktu akan terus berlalu, baik kita dalam keadaan terjaga maupun tidur, sibuk maupun lowong. Waktu terus berjalan, tidak ada seorangpun yang mampu menahannya. Sekiranya semua manusia bersatu padu untuk menahan matahari supaya waktu siang bertambah panjang niscaya mereka tidak akan bisa melakukannya. Tidak ada seorangpun yang dapat menahan waktu.

Karena itu, jadikanlah hidupmu hidup yang penuh semangat. Jika engkau selesai mengerjakan sebuah pekerjaan, lanjutkanlah dengan pekerjaan yang lainnya. Jika engkau selesai mengerjakan urusan dunia, hendaklah engkau melanjutkannya dengan mengerjakan urusan akhirat. Sebaliknya, jika engkau selesai mengerjakan urusan akhirat lanjutkanlah dengan urusan dunia. Apabila engkau telah selesai mengerjakan shalat Jum’at, bertebarlah di muka bumi dan carilah karunia Allah Ta’ala.
Shalat Jum’at diapit oleh dua urusan dunia.

Allah Ta’ala berfirman:
"Hai orang-orang beriman, apabila kalian diserut untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila shalat telah ditunaikan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah kepada Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung."
(QS. Al-Jumu’ah/62:9-10).

Jika ada yang mengatakan, “Jika aku terus -menerus serius dan sungguh-sungguh setiap waktu, aku pasti letih dan bosan.” Jawabannya adalah istirahatmu untuk menyegarkan dirimu dan mengembalikan gairah kerja termasuk pekerjaan dan amalan. Maksudnya pekerjaan dan amalan itu tidak harus bergerak. Waktu istirahatmu untuk mengembalikan gairah kerja termasuk pekerjaan dan amalan. Yang paling penting adalah jadikanlah seluruh hidupmu dalam kesungguh-sungguhan dan amal.

Wallahua'lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar